banner 728x250

Gubernur Gusnar Ngopi Bareng Warga di Warkop Emy: Suara Rakyat Paling Jujur Ada di Sini

banner 120x600
banner 468x60

SUSUPONEWS – LIMBOTO — Suasana Minggu pagi di kawasan Bawah Menara Limboto terasa hangat. Aroma kopi hitam baru diseduh menguar dari Warkop Emy, tempat biasa warga, tokoh masyarakat, dan anak muda berkumpul bertukar pikiran. Tiba-tiba suasana makin ramai dan akrab: Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, hadir tanpa iringan protokoler berlebihan, memilih duduk berbaur layaknya warga biasa.

Tanpa sekat, tanpa jarak, Gubernur duduk sejajar, menyeruput kopi sambil menyimak langsung apa yang menjadi pemikiran, harapan, dan keluhan warga.

“Alhamdulillah, Pak Gubernur bisa berkenan hadir duduk dan ngopi bersama kami di sini. Sudah lama warung ini menjadi tempat berkumpul warga, tempat anak muda bertukar gagasan,” ujar Haji Ruslan Tatu, tokoh masyarakat yang membuka obrolan.

Gusnar menyahut dengan tawa lepas, terlihat santai namun penuh perhatian. “Inilah yang saya cari. Ngopi begini lebih jujur dan terbuka. Kalau di kantor, semuanya berjalan secara formal. Tapi di warkop, semua orang bisa bicara apa adanya, menyampaikan hal yang sebenarnya ada di hati. Warkop Emy ini luar biasa, selalu ramai dan hidup,” ucapnya.

Hadir pada kesempatan itu tokoh masyarakat Pak Ayuba Hida. Pembicaraan pun mengalir luwes, beralih dari hal ringan ke persoalan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Tokoh masyarakat lainnya,  Irfan Ange, menyampaikan persoalan pasokan dan antrian BBM yang masih menjadi keluhan banyak pihak. Ada usulan agar penyaluran lebih berfokus pada kendaraan berplat nomor lokal, namun usulan itu juga memicu tanggapan beragam dari pengemudi lintas wilayah Sulawesi.

Mendengar hal itu, Gusnar menjelaskan dengan tegas: “Pemikiran-pemikiran itu masih sebatas wacana, belum menjadi peraturan resmi. Begitu juga usulan soal pelayanan kendaraan yang pajaknya belum lunas — itu juga baru gagasan, masih butuh kajian mendalam dan pembahasan lebih lanjut.”

Terkait masalah antrian panjang BBM, terutama jenis solar dan pertalite, Gusnar memaparkan empat langkah yang sedang dan akan ditempuh pemerintah:

Pertama, pengiriman pasokan dari Pertamina ke SPBU dijadwalkan paling lambat pukul 05.00 pagi, agar warga tidak sudah berbaris lama sebelum pasokan datang.

Kedua, pengawasan diperketat oleh satgas agar tidak ada penimbunan atau pembelian berlebihan yang memicu antrian berulang.

Ketiga, aturan pemberian rekomendasi BBM kebutuhan pertanian akan ditinjau kembali, menyusul temuan ada satu keluarga yang memegang banyak surat rekomendasi.

Keempat, Pemerintah Provinsi terus berupaya bernegosiasi agar kuota solar subsidi untuk Gorontalo dapat ditambah guna memenuhi kebutuhan nyata masyarakat.

Di sela obrolan serius, canda tawa tetap mewarnai suasana. “Pak Gubernur, ngopi dulu, santai dulu,” kata seorang warga, disambut gelak tawa semua orang.

Gusnar pun tersenyum lebar: “Siap Om! Kopi Emy ini memang mantap. Pahitnya pas, persis seperti perjuangan hidup — nikmat setelah kita lewati dengan sabar.”

Tak hanya soal BBM, warga juga menyampaikan keluhan soal kemarau panjang yang melanda, harga beras, penyaluran bantuan pangan di wilayah Tenilo dan Hunggaluwa, hingga kondisi jalan yang rusak di sejumlah titik Limboto. Setiap masukan dicatat langsung oleh Gusnar di gawai miliknya.

“Semua saran dan keluhan yang kalian sampaikan, saya catat satu per satu. Ini sangat berharga. Pemerintah tidak boleh menjauh dari warung kopi, karena di sinilah suara asli rakyat sebenarnya berada,” tegas Gusnar.

Sementara itu, Emy, pemilik Warkop Emy yang sejak tadi sibuk menyajikan kopi, tampak terharu dan bangga. “Saya tidak menyangka Pak Gubernur mau datang dan duduk di sini. Ini warung kecil sederhana saja, tapi beliau datang layaknya saudara sendiri. Terima kasih banyak Pak, kunjungan ini jadi sejarah berharga buat kami, dan bukti bahwa pemimpin benar-benar dekat dengan rakyat,” ungkapnya dengan tulus.

Hampir satu jam lebih silaturahmi berlangsung hangat. Anak muda, tokoh masyarakat, hingga warga yang lewat berdatangan, berfoto bersama, berbagi sapaan akrab.

Sebelum berpamitan, Gusnar berpesan: “Terima kasih atas segala masukan dan keakraban hari ini. Limboto adalah jantungnya Kabupaten Gorontalo, kemajuan dan keharmonisannya harus kita jaga dan bangun bersama. Insya Allah, kebersamaan ini akan terus terjalin.”

Pagi itu di Bawah Menara Limboto, bukan sekadar kopi yang disajikan. Ada kehangatan kepemimpinan, ada keterbukaan mendengar, dan bukti nyata bahwa pemerintahan yang baik dimulai dengan keberanian duduk sejajar dan mendengarkan suara rakyat secara langsung.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *