SUSUPONEWS.COM – GORONTALO – Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) XVII tahun 2026 resmi berakhir. Meski rangkaian acara telah selesai, dampak positifnya masih terasa hingga ke jalanan kota dan lapak-lapak usaha kecil di seluruh wilayah Gorontalo.
Kegiatan yang berlangsung pada 20 hingga 24 Juni 2026 ini berpusat di Gor David Toni Limboto. Selama lima hari, lokasi tersebut dipadati ribuan peserta dan tamu yang datang dari 38 provinsi di Indonesia. Kehadiran mereka meliputi petani, nelayan, pejabat pemerintah, akademisi, hingga wisatawan yang ingin menyaksikan dan mengikuti berbagai agenda.
Dampak langsung terlihat dari sektor transportasi dan akomodasi. Selama berlangsungnya PENAS, hampir seluruh kamar hotel di Limboto dan Kota Gorontalo terisi penuh. Jalan-jalan utama pun semakin ramai, sementara pengemudi bentor justru mendapatkan peluang rezeki yang melimpah.
“Alhamdulillah, selama tujuh hari ini rezeki kami sangat lancar. Dari pagi hingga malam, bentor tak berhenti melayani penumpang. Sebagian besar tamu dari luar daerah memilih naik bentor untuk berkeliling Limboto dan Kota Gorontalo,” ujar Ketua Ikatan Pengemudi Bentor Provinsi Gorontalo, Yasin Abdullah.
Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Gubernur Gusnar Ismail. Menurutnya, penyelenggaraan acara berskala nasional ini memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat kecil yang bergantung pada sektor transportasi.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berbagai lapak yang menjajakan kuliner khas, kerajinan tangan, serta produk olahan hasil pertanian dan perikanan ludes diserbu pengunjung. Nilai transaksi harian yang sempat mencapai jutaan rupiah, setara dengan pendapatan yang biasanya diraih dalam waktu seminggu.
“Kami pelaku UMKM kecil biasanya dagangan terasa sepi. Namun saat PENAS XVII berlangsung, kue, keripik pisang, makanan khas, hingga cinderamata Gorontalo selalu habis terjual. Ini berkah yang sangat berarti bagi kami,” kata Ivon, pelaku UMKM di kawasan Menara Limboto.
Sementara itu, dari kalangan petani juga menyampaikan apresiasi yang sama. Agus Husain, petani jagung dari Pulubala, menyebutkan bahwa PENAS menjadi momen berharga untuk menambah wawasan. Ia mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara menghasilkan panen jagung yang berkualitas hingga teknik pengelolaan lahan pertanian secara lebih modern.
Gubernur Gusnar Ismail sebelumnya memang menargetkan penyelenggaraan PENAS XVII sebagai penggerak utama perekonomian rakyat. Target tersebut terbukti tercapai, di mana manfaat tidak hanya dirasakan oleh petani dan nelayan, tetapi juga menyentuh sektor usaha kecil dan pekerja informal.
(Rolly Maku)


















