SUSUPONEWS.COM – LIMBOTO – .Keramahan dan keamanan menjadi dua nilai utama yang mencuri perhatian dalam pelaksanaan Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) XVII tahun 2026 di Gorontalo. Wilayah yang dikenal dengan sebutan Bumi Serambi Madinah ini berhasil memberikan kesan mendalam bagi setiap peserta yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia.
Salah satu peserta yang merasakan langsung kenyamanan tersebut adalah Endang Sustiono, utusan dari Kontingen Sumatera Selatan. Ia mengaku merasa betah dan aman selama menjalani rangkaian kegiatan di daerah yang dijuluki sebagai wilayah paling damai ini.
“Warga Gorontalo sangat ramah kepada siapa saja. Sejak pertama kali melangkahkan kaki hingga saat ini, kami selalu disapa dengan senyum, dibantu ketika membutuhkan sesuatu, bahkan sering ditawari makanan dan minuman,” ungkap Endang di sela kesibukan acara.
Menurutnya, pengalaman berada di Gorontalo menjadi yang paling berkesan selama ia mengikuti serangkaian kegiatan PENAS. Ia menilai daerah ini memiliki standar keamanan yang membuat siapa pun merasa tenang tanpa rasa khawatir.
“Jujur saja, ini daerah paling aman yang pernah saya datangi selama mengikuti PENAS. Bahkan jika berjalan keluar di malam hari sekalipun, suasana tetap tenang dan orang-orangnya menunjukkan sikap yang baik dan menghormati,” tambahnya dengan nada puas.
Pernyataan tersebut tidak hanya datang dari Endang saja, melainkan juga diamini oleh seluruh rekan satu kontingen dari Sumatera Selatan. Kesan yang sama dirasakan secara kolektif sejak hari pertama kedatangan mereka.
Rombongan tersebut tiba di Gorontalo pada tanggal 18 Juni 2026. Sejak saat itu, mereka langsung disambut dengan hangat melalui tradisi khas daerah yang dikenal dengan sebutan mongodulaa.
Sambutan dan keramahan warga tidak hanya terasa di satu tempat saja. Kesan positif itu menyelimuti perjalanan mereka mulai dari kedatangan di bandara, tempat penginapan, hingga menuju lokasi utama penyelenggaraan acara di GOR David Toni, Limboto.
Kesan baik itu semakin menguat saat digelarnya acara puncak, yaitu Gelar Seni Budaya PENAS XVII. Acara ini berhasil menarik antusiasme masyarakat setempat maupun peserta dari luar daerah.
Ribuan pengunjung memadati kawasan Bandayo Po’boide, sehingga menciptakan keramaian yang cukup padat. Meskipun kondisi jalan dan tempat berkumpul terasa penuh, tidak terjadi kekacauan yang mengganggu jalannya acara.
Suasana tetap terjaga dengan tertib, aman, dan kondusif. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kenyamanan bukan hanya dirasakan secara individu, tetapi juga terpelihara dalam situasi keramaian sekalipun.
Bagi Endang, penyelenggaraan PENAS XVII di Gorontalo memberikan manfaat yang melampaui tujuan utamanya. “Kami dapat ilmu pertanian, menjalin persaudaraan baru, sekaligus merasakan rasa aman yang luar biasa. Gorontalo memang luar biasa,” pungkasnya.


















