banner 728x250

Ini Urutan Pertemuan Nasional Petani & Nelayan: Sejak 1971 Hingga PENAS ke-XVII Tahun 2026 di Gorontalo

banner 120x600
banner 468x60

SUSUPONEWS.COMGORONTALO – Pertemuan Nasional Petani dan Nelayan atau yang akrab disapa PENAS merupakan agenda akbar yang diselenggarakan secara berkala sebagai wadah berkumpulnya seluruh unsur petani, nelayan, dan pelaku usaha pertanian serta kelautan dari seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini pertama kali digagas dan dilaksanakan pada tahun 1971 di Cihea, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Penyelenggaraan pertama ini menjadi tonggak sejarah penting yang menandai dimulainya gerakan bersatu untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan kelautan. Sejak saat itu, PENAS dijadikan ajang rutin yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali guna menjaga kesinambungan komunikasi dan pengembangan potensi di sektor tersebut.

Tujuan utama diadakannya PENAS adalah untuk menyatukan aspirasi, menyamakan persepsi, serta merumuskan langkah-langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi dunia pertanian dan kelautan nasional. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat organisasi kelompok tani dan kelompok nelayan, memperluas akses terhadap informasi dan teknologi baru, serta mendorong terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan antara pelaku usaha dengan pemerintah dan dunia usaha. Melalui forum ini, diharapkan muncul solusi nyata yang dapat menjawab permasalahan klasik seperti keterbatasan modal, akses pasar yang sempit, hingga perubahan iklim yang memengaruhi hasil produksi.

banner 325x300

Penyelenggaraan selanjutnya, yaitu PENAS ke-II dilaksanakan pada tahun 1974 di Wringin Telu, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kegiatan ini menegaskan bahwa semangat persatuan tidak berhenti di satu tempat saja, melainkan menyebar ke berbagai wilayah sentra produksi. Disusul kemudian PENAS ke-III pada tahun 1977 di Tawid, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, yang menjadi bukti bahwa perhatian juga diberikan kepada wilayah di luar Pulau Jawa. Setiap perpindahan lokasi ini dimaksudkan agar peserta dapat melihat langsung kondisi lapangan, bertukar pengalaman, dan mempelajari sistem pengelolaan usaha yang telah berhasil dikembangkan di daerah masing-masing.

PENAS ke-IV dilangsungkan pada tahun 1980 di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, diikuti oleh PENAS ke-V tahun 1983 di Karanganyar, Jawa Tengah, serta PENAS ke-VI tahun 1986 di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Rangkaian penyelenggaraan ini semakin memperluas jangkauan jaringan petani dan nelayan antarwilayah. Manfaat nyata yang mulai dirasakan pada masa ini antara lain adalah terbukanya kesempatan untuk mempelajari cara pengolahan hasil panen yang lebih baik, sehingga nilai jual produk meningkat. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Memasuki periode berikutnya, PENAS ke-VII diadakan pada tahun 1989 di Padang Pariaman, Sumatera Barat, kemudian PENAS ke-VIII tahun 1992 di Deli Serdang, Sumatera Utara, dan PENAS ke-IX tahun 1995 kembali ke Kalimantan Selatan, tepatnya di Tabalong. Pada tahap ini, manfaat yang dirasakan semakin terasa dalam bentuk kemudahan mendapatkan informasi mengenai pupuk unggul, benih berkualitas, serta alat dan mesin pertanian yang lebih modern. Melalui interaksi langsung antar peserta, terjalin pula kerja sama dagang yang memungkinkan hasil bumi dan laut dapat dipasarkan ke daerah yang lebih luas tanpa terhambat jarak dan biaya yang mahal.

PENAS ke-X dilaksanakan pada tahun 1998 di Blitar, Jawa Timur, dilanjutkan dengan PENAS ke-XI tahun 2001 di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, serta PENAS ke-XII tahun 2004 di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Di setiap penyelenggaraan ini, pemerintah juga turut hadir untuk mendengarkan secara langsung keluhan dan usulan dari lapangan. Manfaat yang didapatkan adalah adanya kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak, seperti penyediaan kredit usaha dengan bunga ringan dan pembangunan infrastruktur jalan serta irigasi yang sangat dibutuhkan untuk melancarkan proses produksi dan distribusi hasil pertanian dan kelautan.

Penyelenggaraan selanjutnya adalah PENAS ke-XIII pada tahun 2007 di Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dan PENAS ke-XIV yang sempat mengalami penyesuaian waktu sehingga dilaksanakan pada tahun 2014 di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Meskipun ada penyesuaian jadwal, semangat dan tujuan penyelenggaraan tetap terjaga. Pada masa ini, manfaat yang paling terasa adalah pengenalan teknologi digital dan sistem pemasaran baru, sehingga petani dan nelayan tidak hanya bergantung pada tengkulak, tetapi dapat menjual hasilnya secara langsung ke konsumen dengan harga yang lebih layak dan menguntungkan.

PENAS ke-XV digelar pada tahun 2017 di Banda Aceh, Provinsi Aceh, menjadi bukti bahwa kegiatan ini menjangkau hingga ujung paling barat wilayah Indonesia. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan PENAS ke-XVI yang diselenggarakan pada tahun 2023 di Kota Padang, Sumatera Barat. Setiap penyelenggaraan membawa dampak positif, antara lain meningkatnya keterampilan dalam mengolah dan mengemas produk agar lebih tahan lama dan memiliki daya tarik pasar. Selain itu, peserta juga mendapatkan bekal pengetahuan tentang pengelolaan keuangan usaha agar dapat mengembangkan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan tanpa terjebak dalam lingkaran utang.

Puncak dari rangkaian perjalanan panjang ini adalah PENAS ke-XVII yang dilaksanakan pada tahun 2026 di Limboto, Provinsi Gorontalo. Penyelenggaraan di wilayah ini menjadi wujud pemerataan perhatian dan kesempatan bagi daerah di kawasan Indonesia Timur. Di sini, berbagai inovasi terbaru di bidang pertanian dan kelautan diperkenalkan, serta kesepakatan bersama dibuat untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Semua pengalaman yang dikumpulkan dari penyelenggaraan sebelumnya menjadi dasar untuk menyusun strategi yang lebih matang dalam menghadapi tantangan masa depan.

Secara keseluruhan, perjalanan PENAS sejak tahun 1971 hingga tahun 2026 telah membuktikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sarana perjuangan dan pembelajaran yang nyata. Manfaat yang diterima petani dan nelayan meliputi peningkatan pengetahuan, perluasan jaringan usaha, peningkatan pendapatan, serta terciptanya kebijakan yang mendukung kesejahteraan mereka. Dengan semangat kebersamaan yang terus dipelihara, diharapkan PENAS tetap menjadi penggerak utama dalam memajukan sektor pertanian dan kelautan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri, makmur, dan berkelanjutan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *