banner 728x250

Riset BRIN-LPDP: Narasi Budaya di Balik Hidangan Tradisional Suku Polahi

banner 120x600
banner 468x60

SUSUPONEWS.COM – GORONTALO, 06/07/2026 – Kekayaan budaya Indonesia kembali menjadi fokus perhatian dunia akademik melalui pelaksanaan Ekspedisi Kekayaan Budaya Nusantara di kawasan Wallacea. Tahun ini, Gorontalo dipilih sebagai salah satu lokasi utama penelitian dengan mengangkat tema “Menggali Narasi Kebudayaan di Balik Tradisi Kuliner Suku Terasing”, yang berfokus pada dokumentasi dan interpretasi sistem pangan tradisional Suku Polahi, komunitas adat yang masih mempertahankan pengetahuan lokal berbasis hutan di pedalaman Gorontalo.

Ekspedisi ini mempertemukan para peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset nasional dalam sebuah kolaborasi multidisiplin yang menggabungkan kepakaran di bidang linguistik, antropologi, semiotika, etnografi, etnobiologi, ilmu sosial, dan kajian kebudayaan. Tim terdiri atas peneliti dari Universitas Hasanuddin, yakni Dr. Ery Iswary, M.Hum., Andi Vieriawan, S.S., dan Fakhira Yaumil Utami, S.Sos., M.Si.; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diwakili Asri M. Nurhidayah, S.S., M.Hum.; Universitas Andi Djemma Palopo yang diwakili Cici Mahmut, S.E., M.Si.; Universitas Khairun Ternate yang diwakili Dr. Farida Marichar, M.Hum.; IAIN Sultan Amai Gorontalo yang diwakili Dr. Arfan Nusi, M.Hum.; Universitas Negeri Gorontalo yang diwakili Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A.; serta Lembaga Swadaya Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (LSP3) MATUTU yang diwakili oleh Aziz Thaba, S.Pd., M.Pd. dan Abdul Karim, S.Pd., M.Pd.

banner 325x300

Seluruh rangkaian penelitian dipimpin oleh Dr. Ery Iswary, M.Hum., dosen sekaligus peneliti Universitas Hasanuddin yang selama ini aktif mengembangkan kajian mengenai bahasa, budaya, masyarakat adat, dan dokumentasi pengetahuan tradisional di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi lintas institusi merupakan langkah penting untuk menghasilkan dokumentasi ilmiah yang utuh terhadap kekayaan budaya Nusantara yang hingga kini masih banyak belum terdokumentasikan secara memadai. Pelaksanaan ekspedisi ini memperoleh dukungan pendanaan melalui Program Hibah Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi 2025–2027, yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dukungan tersebut memungkinkan terlaksananya penelitian lapangan di berbagai wilayah yang memiliki tingkat aksesibilitas tinggi, pengumpulan data multidisiplin, dokumentasi budaya berbasis audio-visual, pengolahan dan analisis data, pengembangan basis data pengetahuan tradisional, hingga publikasi hasil penelitian dalam jurnal ilmiah bereputasi, buku ilmiah, rekomendasi kebijakan, dan berbagai luaran strategis lainnya.

Program RIIM Ekspedisi merupakan salah satu instrumen strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset nasional melalui kolaborasi antarlembaga sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis kekayaan hayati, budaya, bahasa, dan pengetahuan lokal Indonesia. Melalui dukungan BRIN dan LPDP, penelitian mengenai masyarakat adat tidak hanya berhenti pada dokumentasi akademik, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi pelestarian budaya, pembangunan nasional, serta penguatan posisi Indonesia sebagai negara megabiodiversitas dan megadiversitas budaya.

Menurut Ketua Tim Peneliti, Dr. Ery Iswary, M.Hum., tradisi kuliner masyarakat adat merupakan salah satu pintu masuk terbaik untuk memahami cara sebuah komunitas membangun hubungan dengan alam, mentransmisikan pengetahuan antargenerasi, dan membentuk identitas budayanya.

Tradisi kuliner tidak hanya berbicara tentang makanan. Di balik setiap hidangan tersimpan sejarah, bahasa, pengetahuan ekologis, filosofi hidup, sistem nilai, hingga cara masyarakat menjaga keseimbangan dengan alam. Ketika sebuah tradisi kuliner hilang, sesungguhnya kita juga kehilangan sebagian memori peradaban bangsa,” ujarnya.

Selama penelitian lapangan, tim mendokumentasikan berbagai jenis pangan tradisional Suku Polahi, di antaranya Labia, makanan pokok berbahan dasar sagu; Lopou Utia atau Tuna Sertan, olahan umbut rotan muda; serta Wadupo, jamur hutan yang dimanfaatkan sebagai pangan musiman. Berbagai pangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Polahi memiliki sistem ketahanan pangan yang dibangun melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati hutan secara arif dan berkelanjutan. Namun, menurut tim peneliti, keunikan utama yang berhasil diungkap bukan semata-mata jenis makanannya, melainkan narasi kebudayaan yang hidup di balik setiap praktik kuliner tersebut. Setiap bahan pangan, teknik pengolahan, cara memasak, hingga pola konsumsi merepresentasikan pengetahuan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat Polahi memiliki kemampuan mengenali tumbuhan, jamur, dan sumber daya hutan yang aman dikonsumsi, memahami musim kemunculan setiap bahan pangan, serta mengembangkan teknik pengolahan yang sederhana tetapi efektif dalam menjaga kualitas pangan.

Temuan awal penelitian juga memperlihatkan bahwa tradisi kuliner Suku Polahi merupakan arsip pengetahuan hidup (living knowledge archive) yang merekam informasi mengenai biodiversitas, adaptasi lingkungan, sistem klasifikasi lokal terhadap sumber daya alam, teknologi tradisional, hingga filosofi hubungan manusia dengan alam. Pengetahuan semacam ini memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi karena sebagian besar masih diwariskan secara lisan dan belum terdokumentasikan secara sistematis dalam literatur akademik. Lebih jauh, tim menemukan bahwa pola konsumsi masyarakat Polahi mencerminkan prinsip keberlanjutan yang kuat. Mereka memanfaatkan sumber daya hutan sesuai siklus alam tanpa eksploitasi berlebihan sehingga tercipta keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Praktik tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat adat menyimpan pengetahuan ekologis yang sangat relevan dengan berbagai isu global, seperti konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.

Menurut tim peneliti, riset mengenai tradisi kuliner masyarakat adat sudah saatnya memperoleh perhatian yang lebih besar dari pemerintah, dunia akademik, lembaga riset, maupun masyarakat luas. Selama ini, penelitian mengenai kuliner tradisional masih didominasi oleh kajian gastronomi, resep, dan teknik memasak, sementara dimensi bahasa, semiotika, antropologi, etnobiologi, serta sistem pengetahuan yang terkandung di dalamnya belum banyak dieksplorasi. Padahal, hilangnya satu tradisi kuliner berarti hilangnya pengetahuan lokal yang telah dibangun melalui pengalaman kolektif selama ratusan tahun.

Dokumentasi ilmiah terhadap tradisi kuliner masyarakat adat memiliki manfaat strategis bagi berbagai pihak. Bagi komunitas Suku Polahi, penelitian ini menjadi bagian dari upaya pelestarian identitas budaya sekaligus memperkuat pengakuan terhadap pengetahuan tradisional yang mereka miliki. Bagi pemerintah, hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pelindungan warisan budaya takbenda, pengembangan pendidikan berbasis budaya lokal, konservasi lingkungan, serta penguatan ketahanan pangan nasional. Bagi dunia akademik, penelitian ini memperkaya khazanah ilmu pengetahuan pada bidang antropologi, linguistik, semiotika, etnobiologi, antropologi pangan, dan studi masyarakat adat. Bahkan, bagi sektor pembangunan, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan ekonomi kreatif, gastronomi berbasis budaya, dan pariwisata berkelanjutan yang tetap menghormati hak serta nilai-nilai masyarakat adat.

Kawasan Wallacea sendiri dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dan budaya dunia. Oleh karena itu, dokumentasi pengetahuan masyarakat adat di kawasan ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi komunitas ilmiah internasional. Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan sumber daya alam, sistem pangan, serta adaptasi terhadap lingkungan diyakini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjadi inspirasi bagi berbagai model pembangunan yang lebih berkelanjutan. Melalui ekspedisi ini, tim berharap dapat menghasilkan dokumentasi ilmiah yang komprehensif mengenai tradisi kuliner masyarakat adat di kawasan Wallacea, membangun basis data digital mengenai warisan budaya dan pengetahuan tradisional, menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional, menyusun rekomendasi kebijakan berbasis hasil penelitian, serta memperkuat upaya pelindungan warisan budaya takbenda Indonesia.

Tim juga berharap penelitian ini mampu meningkatkan kesadaran publik bahwa makanan tradisional masyarakat adat bukan sekadar produk konsumsi, melainkan representasi sejarah, bahasa, identitas, pengetahuan ekologis, dan filosofi hidup yang telah dibangun selama berabad-abad. Dengan demikian, pelestarian tradisi kuliner harus dipandang sebagai bagian penting dari pelestarian kebudayaan nasional, penguatan identitas bangsa, dan investasi pengetahuan bagi generasi mendatang. Ekspedisi di Gorontalo merupakan bagian dari agenda penelitian jangka panjang RIIM Ekspedisi 2025–2027 BRIN–LPDP dalam mendokumentasikan kekayaan budaya masyarakat adat di kawasan Wallacea. Melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan masyarakat lokal, tim optimistis hasil penelitian ini tidak hanya akan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan tradisional sebagai salah satu kekuatan strategis bangsa di masa depan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *