banner 728x250
Berita  

Menjawab Tantangan Neoliberalisme, Rayon An Nahdhlah PMII Mendorong Pembaharuan Paradigma Gerakan Berbasis Realitas

banner 120x600
banner 468x60

SUSUPONEWS.COM, GORONTALO — Rayon An Nahdhlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah menegaskan pentingnya evaluasi dan reorientasi paradigma gerakan mahasiswa di tengah pergeseran lanskap sosial, politik, dan ekonomi global. Gagasan ini mengemuka seiring perlunya PMII membaca ulang arah perjuangan organisasi agar tidak sekadar terjebak pada pola gerakan reaksioner, melainkan mampu merespons dominasi neoliberalisme dan hegemoni pasar modern secara terstruktur.

Melalui kajian naskah “Paradigma Menggiring Arus: Model Gerakan PMII di Era Neoliberal”, dipaparkan bahwa sejarah panjang PMII—mulai dari Deklarasi Independensi di Murnajati Malang (1974), penegasan Interdependensi PMII-NU (1980-an), hingga partisipasi aktif dalam gerakan civil society dan reformasi 1998—membuktikan bahwa PMII senantiasa hadir dalam momentum penting bangsa. Namun, dinamika pasca-reformasi membawa tantangan baru di mana aktor kekuasaan bukan lagi sekadar rezim otoriter negara, melainkan Transnational Corporations (TNCs) dan kekuatan ekonomi global.

Kepala Bidang (Kabid) Kajian Strategis dan Advokasi Rayon An Nahdhlah Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Gusnar Rupu, menyampaikan beberapa poin kunci yang menjadi sorotan dalam penguatan paradigma PMII ke depan:

Perubahan Paradigma dari Reaksioner ke Terencana: Paradigma organisasi tidak boleh hanya menjadi wacana simbolis atau heroik sesaat, melainkan harus memandu arah tindakan organisasi secara jangka panjang (longue durée). PMII perlu keluar dari jebakan pola gerakan yang sekadar merespons isu (event-driven) menuju gerakan yang digerakkan oleh strategi matang (strategy-driven).

Rekonsiliasi Elemen Kultural dan Struktural: Perdebatan antara dikotomi gerakan “kultural” dan “struktural” yang selama ini mewarnai dinamika PMII dan warga Nahdhiyin perlu disikapi secara matang. Gerakan mahasiswa harus mampu mengombinasikan kekuatan basis massa kultural dengan kerja-kerja strategis-struktural di berbagai sektor publik.

Membangun Reality-Based Paradigm (Paradigma Berbasis Realitas): Memasuki era neoliberalisme, PMII diajak untuk meninggalkan logika-logika normatif dan teori yang jauh dari realitas objektif masyarakat. Paradigma baru harus disusun dari perpaduan antara refleksi sejarah dan realitas konkret hari ini, sehingga PMII mampu menjawab persoalan riil seperti ketimpangan ekonomi, kemandirian rakyat, hingga kedaulatan sektor publik.

“Paradigma yang baik adalah paradigma yang mampu menjadikan sejarah sebagai bahan penyusun yang dipadukan dengan kenyataan hari ini. Jika gerakan mahasiswa tidak berakar pada realitas nyata, maka gerakan tersebut hanya akan terjebak pada wacana akademis tanpa membawa dampak langsung bagi perubahan struktur masyarakat,” tegas Gusnar Rupu.

Melalui arah pemikiran ini, Rayon An Nahdhlah PMII Fakultas Ushuluddin dan Dakwah berkomitmen untuk terus memantik diskusi kritis serta memfasilitasi kader-kader agar tetap kritis, militan, dan berwawasan luas dalam menghadapi dinamika global.

Tentang PMII Rayon An Nahdhlah:
Rayon An Nahdhlah adalah unit basis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan Pancasila, Rayon An Nahdhlah aktif mengawal isu-isu keagamaan, sosial, serta advokasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *