banner 728x250

Senioritas Bukan Alasan Merendahkan Sesama Wartawan — Aturan Dewan Pers Tegaskan Setara

banner 120x600
banner 468x60

SUSUPONEWS – ‎TOJO UNA-UNA — Sikap seorang wartawan berinisial BD yang dinilai merasa paling senior di dunia jurnalistik menjadi sorotan tajam di kalangan insan pers. BD disebut menyinggung keberadaan rekan sejawat lainnya dengan menyebut mereka baru “seumur jagung” dalam menjalankan profesi jurnalistik.

‎Pernyataan bernada senioritas tersebut menuai kritik luas. Sebab, lamanya seseorang berkecimpung di dunia jurnalistik tidak semestinya dijadikan alasan untuk merendahkan atau mengecilkan kapasitas wartawan lain, apalagi memandang sebelah mata kinerja rekan yang lebih muda.

banner 325x300

‎Aturan Dewan Pers dengan tegas menyatakan bahwa setiap wartawan memiliki kedudukan yang setara, tanpa memandang lama atau singkatnya masa pengabdian di bidang kewartawanan. Senioritas tidak boleh dijadikan alat untuk menempatkan seseorang pada posisi lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan rekan sejawat lainnya.

‎Kode Etik Jurnalistik juga mengamanatkan agar insan pers saling menghormati dan tidak menjatuhkan martabat sesama wartawan. Setiap orang yang menjalankan profesi ini wajib menjaga kehormatan profesi dan tidak membuat pernyataan yang merendahkan rekan sejawat.

‎Menanggapi hal tersebut, Ahmad Tuliabu memberikan pandangan kritis. Ia menilai pengalaman dalam dunia jurnalistik memang penting, tetapi senioritas tidak boleh dijadikan alat untuk membangun kesan bahwa seorang wartawan lebih tinggi derajatnya dibandingkan wartawan lainnya.

‎«“Kalau memang merasa senior, tunjukkan melalui karya dan keteladanan. Jangan karena merasa lebih lama berada di dunia jurnalistik kemudian menganggap wartawan lain baru seumur jagung. Semua wartawan berhak berkembang dan belajar,” ujar Ahmad Tuliabu.»

‎Menurutnya, wartawan yang lebih senior justru memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh dan membimbing generasi jurnalis yang lebih muda, bukan sebaliknya merendahkan mereka dengan pernyataan yang bernada meremehkan.

‎Perbedaan pengalaman seharusnya menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan, saling melengkapi, dan bekerja sama meningkatkan kualitas jurnalistik. Bukan menjadi alasan untuk saling merendahkan atau merasa lebih unggul hanya karena lebih lama mengenal profesi ini.

‎“Jurnalistik bukan soal siapa yang paling lama memakai atribut wartawan. Yang terpenting adalah bagaimana menjalankan tugas secara profesional, melakukan verifikasi, menjaga keberimbangan, dan mematuhi Kode Etik Jurnalistik,” katanya menegaskan.

‎Ahmad Tuliabu juga menilai istilah “baru seumur jagung” terhadap wartawan lain tidak semestinya dijadikan ukuran kualitas seorang jurnalis. Wartawan yang baru memulai karier sekalipun tetap memiliki hak untuk belajar, berkarya dan menjalankan tugas jurnalistik sesuai aturan yang berlaku.

‎Di era media digital yang berkembang pesat, kualitas seorang wartawan pada akhirnya dapat dilihat dari karya yang dihasilkan, ketepatan informasi, dan bagaimana informasi tersebut dipertanggungjawabkan kepada publik. Bukan dari berapa lama seseorang memegang kartu pers.

‎Senioritas seharusnya melahirkan keteladanan, bukan kesombongan. Pengalaman seharusnya menjadi ilmu yang dibagikan kepada sesama, bukan alat untuk merendahkan dan mematikan semangat rekan yang baru mulai melangkah. Hingga berita ini disusun, pernyataan wartawan BD tersebut masih menjadi sorotan di kalangan insan pers. BD berhak memberikan klarifikasi maupun tanggapan atas pemberitaan ini.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *