Oleh: Mansir Mudeng
SUSUPONEWS – Limboto –
Musim kemarau memeluk bumi Gorontalo dengan genggaman yang berat. Sumur-sumur tua mengering menahan sisa air terakhirnya. Retakan di hamparan sawah bukan sekadar tanah yang pecah, melainkan harapan petani yang perlahan merapuh. Ternak berdiri diam, menatap langit yang tak kunjung menurunkan hujan. Ibu-ibu berjalan jauh, berharap setetes air untuk anak-anak mereka. Rakyat bertanya: di mana bantuan? Keringkah pula perhatian pemimpin kita?
Namun di tengah kekeringan yang memilukan itu, sorotan justru tertuju pada hal lain. Ada seremoni besar. Ada pesta adat yang meriah. Pulanga disematkan, pujian dilantunkan, tepuk tangan bergema. Pertanyaan pun muncul di benak banyak orang: apakah ini waktu yang tepat untuk berpesta, sementara rakyat sedang berjuang sekadar untuk minum?
Izinkan saya menegaskan sejak awal: bukan Pulanga yang keliru. Pulanga adalah mahkota adat Gorontalo yang luhur dan agung. Ia bukan sekadar hiasan kepala. Ia adalah ikrar. Ia adalah pengingat bahwa seorang pemimpin telah diikat oleh janji sakral: “Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah.” Pulanga bukan tanda seseorang telah menjadi lebih tinggi dari rakyatnya — melainkan tanda ia telah berikrar untuk lebih rendah hati dan lebih berat tanggung jawabnya.
Yang patut kita renungkan bukanlah Pulanganya, melainkan prioritasnya. Di manakah letak hati seorang pemimpin, ketika rakyatnya kehausan tetapi dirinya sibuk dipuja di atas panggung? Apakah seremoni lebih mendesak daripada kebutuhan mendasar warganya?
Al-Qur’an telah membunyikan peringatan yang nyaring, ribuan tahun yang lalu:
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan ia saksakan kepada Allah atas isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (daripadamu), ia berkeliling di bumi untuk membuat kerusakan padanya, merusak tanaman-tanaman dan ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” QS. Al-Baqarah: 204–205
Betapa miripnya dengan situasi ini. Manusia yang kata-katanya indah di hadapan publik, tetapi ketika memegang kekuasaan, kerusakan di bumi justru belum tuntas. Sawah retak, sumur kering, rakyat menunggu — dan ia merasa telah melakukan sesuatu yang patut dipuji.
Lebih tajam lagi, Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Al-Ma’un:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”QS. Al-Ma’un: 1–3
Jika orang biasa yang lalai terhadap orang miskin disebut mendustakan agama, apakah tidak lebih berat pertanggungjawaban seorang pemimpin yang memegang kewenangan dan anggaran, tetapi rakyatnya masih kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar?
Sebagai perbandingan, lihatlah teladan Nabi Yusuf AS. Ketika Mesir menghadapi ancaman kekeringan panjang selama tujuh tahun, apa yang Yusuf minta? Bukan gelar kehormatan. Bukan upacara penyambutan. Bukan pujian publik. Ia meminta sesuatu yang jauh lebih penting:
“Jadikanlah aku bendahara negara, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” QS. Yusuf: 55
Yusuf tidak meminta dielu-elukan. Ia meminta amanah. Ia tahu, di saat rakyat akan lapar, yang dibutuhkan bukan upacara — melainkan lumbung yang terisi, distribusi yang adil, dan langkah yang nyata.
Maka, makna Pulanga pun harus kita kembalikan pada hakikatnya. Pulanga bukan tanda bahwa seseorang telah selesai berjuang dan layak beristirahat dalam kehormatan. Pulanga justru adalah awal dari tanggung jawab yang sesungguhnya. Semakin tinggi penghormatan yang diberikan rakyat kepadamu, semakin dalam rasa malumu jika masih ada rakyatmu yang tertinggal.
Seorang pemimpin yang telah dipulanga seharusnya tidak merasa semakin agung. Ia seharusnya merasa semakin kecil di hadapan Allah. Ia seharusnya malu berjalan dengan penuh penghormatan, jika di desanya masih ada warga yang berjalan berjam-jam hanya untuk membawa seember air.
Karena itu, mari kita letakkan Pulanga pada tempatnya. Bukan di atas panggung kemegahan, melainkan di atas pundak tanggung jawab yang berat. Pulanga bukan hadiah atas keberhasilan — ia adalah ujian atas kepercayaan.
Rakyat tidak menolak Pulanga. Rakyat hanya ingin bertanya: kapan Pulanga itu terasa di dalam sumur yang tidak kering? Di dalam sawah yang tidak retak? Di dalam dapur yang tidak sepi?
Pemimpin yang sejati tidak diukur dari seberapa megah panggung tempat ia menerima penghargaan. Ia diukur dari seberapa cepat ia berlari saat mendengar rakyatnya memanggil. Rakyat tidak butuh pidato yang indah. Rakyat butuh tangan yang menjemput air, menata lumbung, dan hadir di tengah kesulitan.
Karena pada akhirnya, pulanga yang paling abadi bukanlah yang diletakkan di atas kepala — melainkan yang tertanam di hati rakyat, karena pemimpinnya hadir saat mereka paling membutuhkan.

















